| | My dad just e-mailed me this poem to post on the blog. It's an elegy my dad wrote for TS A. Samad Ismail.
Best wishes,
Az ----
photo by tanakawho
KE AKHIR SYAIR (Elegi untuk TS A. Samad Ismail)
Dari awal dekad terjajah hingga merdeka bermaruah, harapannya bangat banyak— terlindung dan berselerak. Tapi, suaranya kekal satu tegas pedas, tajam padu. Di sisi bangsa dan budaya lidahnya jarang berubah.
Dalam dekad ‘bagero’ bergigi dan tetahun ‘yesman’ bertaring, suara beraninya benih menguji, tinta canggihnya degil bersaing. Langkah Jepun, hadapi Inggeris, tekun direnda abjad merdeka; dirinya sentiasa di pentas satu— ke akhir hayat pun tetap begitu.
Dia mengirim burung permai ke angkasa yang bangat keruh; tintanya sentiasa pesan damai bisik waras qalbu yang utuh. Layar kecilnya menguji musim menampar sebanyak samudera— kemudinya mengenal iklim meranum bangsa dan bahasanya.
Hingga akhir lidahnya perkasa, senyap nyaring, lembut berani; di tengah teman dan musuh sejarah dakwatnya hujah berseni. Dari muda ke puncak dewasa dirinya terus diranumi hemah. Dan layarnya kemudi teruji mencantikkan panji bangsa.
Dan dalam lara ria berganti bangunnya yakin bertekad dibebat nasib bangsa berbudi dikukuh dengan langkah bersukat. Kini dua abad cemas berganti batinnya masih waja berperi tentang gelora bangsa merdeka— kulit dan isi serta zatnya.
Ia suara gigih dari Timur, mendecip kemerdekaan berkat— dirinya tekad pantang berundur, indah gunung—jauh dan dekat. Di qudus azan paling syahdu dalam Ramadan Jumaat sayu dirinya obor bergilir padam— setelah nyala penuh beragam.
Tapi, dari awal dirinya tahu ke akhir syair ia tunggu. Begitu beda kehidupannya memaruahi jati diri bangsa.
5—10 September, 2008. A. SAMAD SAID.
|
| | Posted 9/11/2008 2:17 AM - 161 Views - 0 eProps - 0 comments
Give eProps or Post a Comment |